Senin, 02 Mei 2016

GEDUNG BANK INDONESIA
Gedung Bank Indonesia Tempo Dulu
Gedung Bank Indonesia Tempo Dulu
Gedung Bank Indonesia Sekarang
Gedung Bank Indonesia Sekarang
GEDUNG BANK INDONESIA 1866 CIREBON
 Kantor De Javasche Bank (DJB) Cabang Cirebon dibuka pada tanggal 31 Juli 1866 dan baru beroprasi pada tanggal 06 Agustus 1866 dengan nama “Agentschap Van De Javasche Bank te Cheribon“, pembukaan kantor cabang ini berdasarkan surat keputusan Gubernur Jendral Hindia Belanda No, 63 Tanggal 31 Juli 1866, merupakan kantor cabang yang kelima.
Empat kantor cabang yang telah dibuka terlebih dahulu yaitu: Semarang, Surabaya, Padang dan Makasar,
P.J. Janssens, Notaris di Cirebon ditunjuk sebagai pimpinan Kantor Cabang Cirebon pertama. Setiap tahun, P.J. Janssens memperoleh imbalan 25 % dari laba bersih minimal f 1.200. Dan sebagai komisaris dan wakil komisaris kantor cabang tersebut diangkat J.W. Peter Pemimpin Cabang Factor der Nederlansche Handel Maatschappij (kini menjadi BEII sebelum bergabung dengan Bank Mandiri) dan P. van Waasdjik. Peletakan batu pertama pembangunan gedung Kantor Cabang Cirebon yang terletak di Kampong Tjangkol No.5, dilakukan pada tanggal 21 September 1919 oleh Jan Marianus Gerritzen (anak Direktur M.J. Gerritzen). Perencanaan arsitektur gedung kantor tersebut dilakukan oleh Biro Arsitek F.D. Cuypers & Hulswit. Gedung ini selesai dibangun dan digunakan pada tanggal 22 Maret 1921. Dari catatan sejarah gedung ini dari awal hingga sekarang yang menjadi gedung Bank Indonesia tetap pada lokasi tersebut dan merupakan satu-satunya gedung Kantor Bank Indonesia yang hanya mempunyai satu kubah, sehingga tampak lebih ramping.
Gedung Bank Indonesia Cirebon, perencanaan arsitektur gedung yang sekarang menjadi bagian dari Gedung Bank Indonesia Cirebon itu dilakukan oleh Biro Arsitek F.D. Cuypers & Hulswit.gedung BI Cirebon ini kabar2nya adalah stu2nya gedung BI di Indonesia yang memiliki satu kubah
Alamat : Jl. Yos Sudarso No. 5-7, Cirebon
VILLA KARANG ANOM KARANGGETAS
 Vila Karang Anom Karanggetas 1920 (ExKorem)
Vila Karang Anom Karanggetas 1920 (ExKorem)
 Villa Anom Sekarang Menjadi Mall Yogya Grand
Villa Anom Sekarang Menjadi Mall Yogya Grand
VILLA KARANG ANOM KARANGGETAS 1920
Rumah ini yang indah, atau lebih baik disebut villa ini, terletak di “Jalan Karanggetas No. 64”. Gedung ini dinamakan “KARANG ANOM” karena letaknya didaerah karang. Villa ini dibangun sekitar tahun 1880an oleh mayor Tan Tjin Kie (1853-1919) untuk putrinya Tan Holy Bio yang tinggal disana bersama suaminya Kwee Tjong In yang berasal dari Kediri. Keluarga ini punya 9 anak. Mereka punya bisnis konglomerasi dan pada masa resesi 1920-an tidak bisa membayar pajak kepada Hindia Belanda. Sebagai bayarannya pemerintah mengambil antara lain Villa Karang Anom. Lalu villa ini dijadikan hotel namanya Hotel Kanton. Setelah tahun 1950an gedungnya disebut “Resimen” karena dipakai Markas Komando Resor Militer. Lalu gedungnya sering dibuat acara pameran pas ulang tahun kota Cirebon. Sekarang sudah diruntuhkan dan dibekas tempat berdirinya dibangun shopping mall Yogya.
BALAI KOTA CIREBON

Balai Kota Cirebon tahun 1927
Balai Kota Cirebon tahun 1927
 Balai Kota Cirebon Sekarang
Balai Kota Cirebon Sekarang
Didesain oleh arsitek J.J. Jiskoot, tahun 1927
Balai Kota (Raadhuis), atau Balai Udang sebagaimana disebutnya oleh rakyat, dibangun pada tahun 1927 dalam gaya arsitektur Art Deco berdasarkan karya J.J. Jiskoot, Kepala Dinas PU Cirebon pada tahun 1927. Delapan ekor udang yang merayap di kedua “menara” nya menegaskan riwayat Cirebon sebagai kota udang. kabarnya, di basement gedung balai kota Cirebon ini terdapat terowongan yang terhubung sampai ke Pelabuhan Muara Jati Cirebon, siasat Belanda untuk melarikan diri ketika terjadi penyerangan dari rakyat Cirebon. Kalau malam minggu depan Gedung Balai Kota sekarang ramai menjadi tempat kongkong anak muda mudi Kota Cirebon
Alamat : Jl. Siliwangi No. 84, Kamp. Tanda Barat, Kec. Kejaksan
GEDUNG BAT (British American Tobacco) CIREBON
Gedung British American Tobacco (BAT) Cirebon tahun 1924
Gedung British American Tobacco (BAT) Cirebon tahun 1924
Gedung British American Tobacco (BAT) Cirebon
Gedung British American Tobacco (BAT) Cirebon
Gedung BAT Cirebon yang mulai digunakan pada tahun 1924 ini dirancang oleh arsitek F.D. Cuypers & Hulswit bergaya Art Deco, sebuah gaya bangunan yang bermula pada awal 1920-an dan terus digunakan sampai setelah berakhirnya Perang Dunia II.
Alamat : Jl. Pasuketan, Kampung Kebumen, Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk-Cirebon
STASIUN KEJAKSAN CIREBON
Gedung Stasiun Cirebon/Kejaksan pada saat dibangun pada tahun 1920
Gedung Stasiun Cirebon/Kejaksan pada saat dibangun pada tahun 1920
Stasiun Kejaksan Cirebon
Stasiun Kejaksan Cirebon
Gedung Stasiun Cirebon/Kejaksan pada saat dibangun pada tahun 1920, diprakarsai oleh seorang arsitek Pieter Adriaan Jacobus Moojen (1879–1955) dalam gaya arsitektur campuran art nouveau dengan art deco,Dua “menara”-nya yang sekarang ada tulisan CIREBON dulu ada tulisan KAARTJES (karcis) di sebelah kiri dan BAGAGE (bagasi) di sebelah kanan.
Alamat : Jl. Siliwangi, Kebonbaru, Kejaksan, Cirebon
PELABUHAN CIREBON
Pelabuhan Kota Cirebon
Pelabuhan Kota Cirebon
Pelabuhan Kota Cirebon
Pelabuhan Kota Cirebon
Pelabuhan Kota Cirebon
Pelabuhan Kota Cirebon
Pelabuhan Kota Cirebon Sekarang
Pelabuhan Kota Cirebon Sekarang
Sejak pertengahan kedua abad XIX pelabuhan Cirebon mengalami perkembangan yang pesat. Hal itu didorong oleh beberapa faktor, pertama, ditinjau dari segi geografis Cirebon merupakan pelabuhan yang strategis. Kedua, sejak tahun 1859 pelabuhan Cirebon dijadikan sebagai pelabuhan bebas dalam arti bukan hanya pemerin¬tah saja yang melakukan niaga di sini tetapi juga dari kalangan swasta. Ketiga, penanaman tanaman komersial berkembang pesat di pedalaman Cirebon terutama setelah pelaksanaan Tanam Paksa dan selanjutnya disusul sistem ekonomi liberal. Keempat, adanya pembangunan-pembangunan dan perbaikan-perbaikan yang dilakukan oleh pemerintah Kolonial baik dari segi perangkat fisiknya seperti dermaga, pergudangan, tangul pemecah gelombang, pengerukan lumpur dan sebagainya, maupun dari segi managemennya. Pada awalnya pembangunan berbagai perangkat fisik maupun managemen lebih bersifat “asal jalan” saja. Sejalan dengan berkembangnya teknologi perkapalan yaitu semakin banyaknya kapal-kapal besar bermesin serta berkembangnya sistem managemen pelabuhan di Eropa pada awal abad XX yang memperlakukan pelabuhan sebagai perusahaan dagang, maka pemerintah Kolonial Belanda dalam membangun pelabuhan-pelabuhan di Hindia Belanda mulai berorientasi ke arah yang demikian itu.

KANTOR POS INDONESIA CIREBON
Kantor Pos Indonesia Cirebon
Kantor Pos Indonesia Cirebon
 Kantor Pos Indonesia Cirebon Sekarang
Kantor Pos Indonesia Cirebon Sekarang
GEDUNG NEGARA TANGKIL CIREBON atau GEDUNG KARESIDENAN
 Gedung Karesidenan Tangkil Cirebon
Gedung Karesidenan Tangkil Cirebon
Sekarang Gedung Negara Tangkil Cirebon
Sekarang Gedung Negara Tangkil Cirebon
Gedung Negara Cirebon ini konon dibangun pada tahun 1865, namun tidak begitu jelas siapa arsitek yang merancangnya. Gedung Negara Cirebon sebelumnya adalah Cheribon Residentswoning atau kantor Karesidenan Cirebon.
Alamat : Bundaran Krucuk
ALUN-ALUN KEJAKSAN
Alun-alun Kejaksan
Alun-alun Kejaksan
Alun-alun Kejaksan
Alun-alun Kejaksan
Alun-aluk Kejaksan Sekarang
Alun-aluk Kejaksan Sekarang
Tugu Proklamasi Prapatan Alun-alun Kejaksan
Tugu Proklamasi Prapatan Alun-alun Kejaksan
STASIUN PERUJAKAN
Stasiun Perujakan Cirebon
Stasiun Perujakan Cirebon
Stasiun Perujakan Sekarang
Stasiun Perujakan Sekarang
RUMAH SAKIT GUNUNG JADI CIREBON
Gedung Orange Hospital Tempo Dulu (RSUDGJ)
Gedung Orange Hospital Tempo Dulu (RSUDGJ)
Rumah Sakit Gunung Jati Cirebon
Rumah Sakit Gunung Jati Cirebon
GEDUNG BANK MANDIRI CIREBON
Gedung Bank Mandiri Cirebon
Gedung Bank Mandiri Cirebon
Gedung Bank Mandiri Sekarang
Gedung Bank Mandiri Sekarang
GEDUNG LANAL CIREBON
Gedung Lanal Cirebon
Gedung Lanal Cirebon
Lanal Cirebon Sekarang
Lanal Cirebon Sekarang

PHOTO TERMINAL GUNUNG SARI 1980 ( Sekarang Grage Mall )

Terminal Lama Gunung Sari Cirebon
Terminal Lama Gunung Sari Cirebon
Ini Tahun 1980, Ketika sudah dibangun ruko-ruko di Terminal Gunung Sari
Ini Tahun 1980, Ketika sudah dibangun ruko-ruko di Terminal Gunung Sari
Jalan Tentara Pelajar Depan Grage Tempo Dulu
Jalan Tentara Pelajar Depan Grage Tempo Dulu
Kolam Renang Gunung Sari
Kolam Renang Gunung Sari
Lapangan Stadion Merdeka Gunung Sari
Lapangan Stadion Merdeka Gunung Sari
Parade Agkot Gunung Sari Tempo Dulu
Parade Agkot Gunung Sari Tempo Dulu
Terminal Cirebon -kuningan
Terminal Cirebon -kuningan
Sekarang Grage Mall Cirebon
Sekarang Grage Mall Cirebon
Sekarang Grage Mall
Sekarang Grage Mall
SUMBER https://zonainfocirebon.wordpress.com/2013/11/27/foto-kota-cirebon-tempo-dulu-dan-sekarang/
Pasar Esoek
Vihara Dewi Welas Asih (Tio Kak Sie)  Kelenteng dewi Welas Asih
Kelenteng Dewi Welas Asih (Tiao Kak Sie)
Kelenteng ini berada di Jl. Kantor No. 2, Kampung Kamiran atau Pacinan, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Lemah Wungkuk. Lokasi yang berada di kawasan perkantoran dan pemukiman penduduk ini tepatnya berada pada koordinat 06º 02‘ 04” Lintang Selatan dan 108º 03’ 135” Bujur Timur. Di sebelah utara kelenteng terdapat Gudang Pelabuhan Pos 2, sebelah timur terdapat Gudang Pelabuhan Pos 1, sebelah selatan merupakan taman dan Jl. Pasuketan, sedangkan di sebelah barat terdapat Bank Mandiri.
Semula nama kelenteng Dewi Welas Asih adalah Tiau Kak Sie. “Sie” artinya rumah orang beribadat (tempat bertapa). “Tio” berarti air pasang (air naik), dan “kak” berarti bangun dari tidur atau membangunkan atau membawa kepada akal yang benar. Dengan demikian, Kelenteng Tiao Kak Sie mempunyai dua arti. Pertama, Kelenteng merupakan tempat yang dibangunkan oleh air pasang. Kedua, kelenteng merupakan tempat akal bertambah. Kelenteng dengan bangunan utama seluas 1.600 m2 ini menghadap  ke selatan, berdiri di lahan seluas 1.857 m2, yang terbagi menjadi halaman pertama, kedua, bangunan utama dan bangunan sayap. Bagian depan halaman pertama dibatasi dengan pagar dan gapura berbentuk bentar, sedangkan pagar sebelah barat dan timur dari tembok. Selanjutnya menuju halaman kedua dimana terdapat bangunan Pat Kwa Ceng (tempat peristirahatan), tempat peribadatan agama Buddha yang disebut Cetya Dharma Rakhita terdapat dua tempat pembakaran kertas dan dua singa di halaman depan.
Bangunan utama terdiri atas serambi dan ruang utama. Ruang utama mempunyai ruang bagian depan, tengah dan ruang suci utama. Dinding sebelah kiri dan kanan pada ruang utama yang berlantai keramik warna merah bata ini dihiasi dengan gambar yang menceritakan bakti seorang anak kepada orang tua, pengadilan, dan penyiksaan terhadap orang-orang berdosa. Masing-masing dinding ruang bagian depan ini juga ditempel prasasti yang menyebutkan nama penyumbang dan jumlahnya, serta tahun pemugaran.
Tiang pendukung atap terdiri atas empat buah, berbentuk segi empat, berwarna merah dan ditempel papan bertuliskan huruf Cina. Plafon terbuat dari kayu, sedangkan atapnya dari genteng berbentuk pelana, dihiasi dengan bunga, burung dan daun-daunan. Pada ruang utama bagian depan terdapat altar Dewi Tie Kong, tempat abu, tempat lilin dan tergantung dua lonceng dan satu bedug.
Pada ruangan bagian tengah terdapat altar untuk Dewa Hok Tek Ceng Sing (Dewa Bumi ), altar untuk Dewa Seng Hong Yah (Dewa Akhirat/Hukum), tempat abu, dua pembakaran kertas dan dua gentong abu.
Ruang suci utama memiliki enam tiang yaitu dua tiang bulat warna merah bergambar naga dan empat tiang bulat merah polos. Dewa-dewa yang dipuja diletakan di dalam ruangan terbuat dari kayu dan terletak di atas pondasi. Dewa utama adalah Kwam Im Pou Sat dengan pengiringnya, Dewa Thian Siang Seng Bo (Dewa Laut/ Pelayaran) berserta pengiringnya dan Dewa Kwam Te Kun (Dewa Perang). Di depan masing-masing dewa terdapat meja altar dan di atasnya terdapat tempat abu dan lilin.
Pada bangunan sayap sebelah timur terdapat altar Dewa Lak Kwam Yah (Dewa Dagang) , altar dewa Couw Su Kong (dewa dapur), altar dewa Hian Thian Siang Tie dan pengiringnya, Dewa Sam Ong Hu dan Kong Tik Coen Ong, gudang, dua ruang kosong dan aula yang dipergunakan untuk ibadat agama Buddha Mahayana. Di depan gudang terdapat jangkar yang diduga dibawa oleh orang tiongkok yang datang dengan naik kapal.
Bangunan sayap belakang terdiri atas tempat air untuk bersuci, gudang, ruang perpustakaan, altar Hian Thian Siang Tie (Dewa langit), altar Tjin Fu Su (Kumpulan dewa-dewa) dan kantor sekretariat. Sementara bangunan sayap sebelah barat merupakan ruangan untuk belajar kitab agama Buddha. Di bangunan sayap ini memiliki pintu di depan (selatan) yang merupakan pintu samping di sebelah barat bangunan utama. Khusus untuk bangunan sayap belakang, altar Hian Thian Siang Tie (dewa langit) mempunyai atap tersendiri, berbentuk pelana, penutup atap dari genting. Ujung bubungan atap berbentuk lengkung ke atas.
Kelenteng atau Vihara Dewi Welas Asih (Tio Kok Sie) menurut ceritanya adalah tempat untuk orang-orang yang belajar ilmu. Kelenteng ini diperkirakan berdiri pada tahun 1595 M, akan tetapi pendirinya tidak diketahui dengan pasti. Prasasti yang berada di ruang utama menyebutkan bahwa Taan Kok Liong, Khang Li, dan Liem Tsiok Tiong pada tahun 1658 M memberi sumbangan. Disebutkan juga bahwa Khang Li adalah Maharaja Tiong Hwa yang memerintah di wilayah Tiongkok pada masa Lodewijk XIV. Prasasti tersebut juga menyebutkan tahun pemugaran dibagian ruang utama yaitu tahun 1791, 1829 dan 1889, tetapi tanpa merubah bentuk aslinya. Sekarang kelenteng ini dikelola oleh Yayasan Tunas Dharma. 
(Sumber: Disparbud Jabar